Ketika terdengar kabar tentang seorang petani gula aren tewas terjatuh dari pohon di Cisewu, rasa pilu langsung menyeruak—tetapi sangat sedikit di antara kita yang menyelami kerentanan profesi penderes nira aren di pelosok desa. Di balik manisnya gula aren yang rutin hadir di meja makan Indonesia, ada cobaan berat yang, sayangnya, sering terabaikan. Tragisnya kecelakaan yang menimpa Nana Suhana di Cisewu, Garut Selatan, harus mendorong kita menatap lebih cermat dinamika suram di balik kemilau industri gula tradisional.

Nyawa Menguap di Atas Pohon: Sekilas Tragedi di Paledang Cibitung
Baru-baru ini, Kampung Paledang Cibitung di Desa Cikarang, kawasan Cisewu, Garut, diguncang oleh tragedi memilukan. Saat pagi masih diselimuti embun, Nana Suhana—petani berusia 53 tahun—jatuh dari tinggi pohon aren lebih dari 15 meter ketika memetik nira. Insiden tersebut, yang diwartakan oleh Garut Update, terjadi sekitar pukul enam pagi, tepat di tengah rutinitas bermandikan risiko yang secara harfiah dialami setiap penderes.
Meski warga sekitar sudah bergerak sigap memberikan pertolongan, luka parah di kepala dan punggung Nana terbukti terlalu berat. Dalam hitungan menit, satu lagi jiwa petani berpulang—mengingatkan kita bahwa setitik gula yang terasa istimewa di lidah, ternyata bisa dibayar dengan harga hidup. Ironisnya, peristiwa semacam ini berulang saban tahun; angka-angkanya samar, sementara keprihatinan sering kali menguap tanpa tindakan nyata.
Mengapa Penderes Nira Menghadapi Risiko Nyata Setiap Hari?
Mengambil nira dari pohon aren berbeda jauh dari aktivitas memetik buah pada umumnya. Diperlukan kecekatan ekstrem, keberanian luar biasa, serta keseimbangan tubuh yang sangat baik. Penderes di Cisewu dan daerah sejenis, hampir selalu menjalankan tugas harian dengan peralatan seadanya—tanpa sabuk pengaman atau helm pelindung. Realita ini masih terjadi karena keterbatasan biaya maupun minimnya pengetahuan terkait perlindungan kerja.
Cuaca pagi yang lembap, jalur menuju pohon yang curam, dan permukaan akar yang licin membuat setiap langkah terasa bagai berjudi dengan nyawa. Pohon aren sangat sering tumbuh di lereng berbahaya, jauh dari hunian, sehingga petani harus berjalan jauh melalui medan berat sebelum bahkan memulai pendakian. Dengan kondisi ini, jumlah kecelakaan serius—bahkan berujung cedera fatal—berpotensi jauh lebih tinggi dibanding banyak profesi pedesaan lainnya.
Ekonomi Gula Aren: Rejeki Melimpah, Namun Tak Selalu Merata
Gula aren telah menjadi salah satu sumber pendapatan fundamental bagi ekonomi lokal di Garut Selatan. Komoditas ini sangat diminati secara nasional bahkan internasional, terutama di tengah tren hidup sehat yang meningkatkan permintaan produk organik. Namun, walau permintaan tumbuh secara mencolok tiap tahun, pendapatan petani sering tidak terdongkrak secara layak.
Berdasarkan informasi dari Dinas Perkebunan Garut pada 2024, lebih dari 4.000 petani di CIS sering kali hanya mendapatkan 30% hingga 40% dari harga jual Rp 15.000 per kilo. Setelah mengurangi biaya produksi, pengangkutan, serta dipotong oleh para tengkulak, pendapatan tersebut jarang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, apalagi mengalihkan sebagian untuk perlengkapan keselamatan kerja yang vital.
Mengubah Tantangan menjadi Solusi: Teknologi dan Kepedulian Nyata
Insiden mengenaskan yang menimpa Nana Suhana semestinya menjadi panggilan penting bagi pemerintah, lembaga pemberdayaan petani, hingga kelompok konsumen di perkotaan. Di era transformasi digital, sudah sepatutnya profesi ini dikelola lebih progresif. Investasi dalam tata kelola keamanan kerja seharusnya menjadi prioritas, tidak boleh sekadar wacana. Dengan meningkatkan akses pada alat panjat modern serta pelatihan teknis—seperti penggunaan tali harness atau sistem alarm darurat—jumlah kecelakaan berpeluang berkurang secara signifikan.
Beberapa wilayah seperti Pagar Alam dan Enrekang telah membuktikan bahwa sistem “Smart Tapping”—yang memanfaatkan tali katrol sehingga penderes dapat bekerja dari permukaan tanah—sangat efektif secara luar biasa untuk mengurangi risiko jatuh. Jika inisiatif ini dipadukan dengan subsidi alat dari pemerintah serta model pelatihan yang berkelanjutan, sebaran manfaatnya akan nyata terasa hingga ke desa-desa terpencil. Kolaborasi dengan universitas dan startup agrikultur modern juga telah menunjukan hasil yang notably improved di beberapa daerah.
Memberi Martabat Baru bagi Petani Gula Aren Tradisional
Dalam bayangan arus teknologi yang terus menggulung, kisah kehilangan di Cisewu pada dasarnya menjadi pengingat kolektif. Profesi penderes nira tak kalah “artisan” dibanding barista andalan di kedai kopi papan atas—bedanya, satu bekerja di balik pohon dan kedua beraksi di balik mesin espresso. Namun sudah saatnya, penghormatan kepada petani—khususnya penderes gula aren—patut setara dengan penghargaan pada menu-menu premium yang dijual ke masyarakat urban.
Mendorong adopsi fair trade, menerapkan skema koperasi profit sharing, bahkan menciptakan merek lokal premium adalah langkah progresif yang sudah terbukti sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan petani di banyak negara. Dengan mendukung keterlibatan petani dalam rantai nilai dan memberikan akses langsung ke pasar, pendapatan mereka dapat meningkat secara mencolok. Bukan hal mustahil dalam beberapa tahun mendatang, profesi penderes bisa setara membanggakan dan menguntungkan dengan petani kopi atau teh.
Sebab jika satu botol sirup gula aren dijual ratusan ribu, tidakkah para penderes layak mendapatkan lebih? Lemparan pertanyaan ini sudah saatnya dijawab melalui tindakan konkret, bukan sekadar empati sesaat yang memudar.
Tabel Perbandingan: Kontras Risiko dan Perlindungan Petani Gula Aren
| Jenis Petani | Risiko Lapangan | Fasilitas Keamanan | Dukungan Pemerintah | Potensi Pendapatan |
|---|---|---|---|---|
| Penderes Gula Aren | Sangat tinggi (panen di ketinggian rawan kecelakaan) | Minimal—umumnya tanpa alat pelindung standar | Rendah hingga sedang | Rp 2–3 juta/bulan |
| Petani Padi | Sedang (cuaca dan mesin pertanian) | Alat standar mulai tersedia (sarung tangan dan boots) | Tinggi (subsidi, asuransi sawah) | Rp 2,5–4 juta/bulan |
| Petani Kopi Organik | Sedang (risiko pengolahan manual) | Standar keamanan mulai diterapkan | Tinggi (pelatihan dan akses ekspor) | Rp 3–6 juta/bulan |
Terkadang, perhatian kita baru tergerak setelah bencana mengetuk pintu desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Namun, tragedi seperti di Cisewu harus menjadi percikan perubahan yang nyata. Selama dekade terakhir, ketahanan pangan Indonesia sangat bergantung pada petani tradisional. Adalah tugas kita—negara, pasar, akademisi, dan konsumen—untuk memastikan para penderes gula aren dapat bekerja dalam situasi kerja yang jauh lebih aman, mendapatkan penghargaan layak, serta harapan masa depan yang lebih cerah.
Mari bergerak bersama, saling menyemangati, dan mewujudkan ekosistem pertanian yang jauh lebih manusiawi. Dengan demikian, setiap sendok gula aren tidak lagi memiliki rasa kehilangan, melainkan menjadi penanda kemenangan keadilan atas dedikasi pekerja di balik ranting dan daun-daun aren yang menggapai langit.
PIC GARUT Public Information Center Garut 