Selasa , Februari 27 2024

Sultan Agung: Raja Mataram yang Berjasa Besar dalam Sejarah Jawa

Sultan Agung Hanyokrokusumo merupakan raja terbesar Kesultanan Mataram yang memerintah dari tahun 1613 hingga 1645. Selama masa pemerintahannya, Sultan Agung berhasil membawa Mataram menjadi kerajaan yang disegani di Nusantara. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan berjasa besar dalam pengembangan budaya Jawa.

Sultan Agung lahir pada tahun 1593 dengan nama Raden Mas Rangsang. Ayahnya adalah Panembahan Senopati, raja pertama Kesultanan Mataram. Sedangkan ibunya adalah Ratu Mas Adi Dyah Handayani, putri dari Ki Gede Pemanahan, pendiri Kesultanan Mataram. Sultan Agung memiliki dua orang istri, yaitu Ratu Wetan dan Ratu Kidul.

Dalam memimpin Kesultanan Mataram, Sultan Agung menunjukkan kecakapannya sebagai seorang pemimpin militer dan politik. Ia berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Pajang, Surabaya, dan Kediri. Sultan Agung juga melakukan ekspansi wilayah ke Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, ia juga berhasil mengusir penjajah Belanda dari Batavia.

Sultan Agung

Raja besar Kesultanan Mataram.

  • Nama lengkap: Sultan Agung Hanyokrokusumo
  • Masa pemerintahan: 1613-1645
  • Ibu kota: Kerta
  • Agama: Islam
  • Istri: Ratu Wetan dan Ratu Kidul
  • Anak: Amangkurat I
  • Meninggal: 1645

Sultan Agung dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan berjasa besar dalam pengembangan budaya Jawa.

Nama lengkap: Sultan Agung Hanyokrokusumo

Nama lengkap Sultan Agung adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo. Nama “Agung” diberikan kepadanya karena ia dianggap sebagai raja yang agung dan berjasa besar bagi Kesultanan Mataram. Gelar “Hanyokrokusumo” diberikan kepadanya setelah ia berhasil menaklukkan Kerajaan Pajang.

  • Sultan

    Gelar yang diberikan kepada raja-raja Kesultanan Mataram.

  • Agung

    Berarti “besar” atau “agung”. Gelar ini diberikan kepada Sultan Agung karena ia dianggap sebagai raja yang agung dan berjasa besar bagi Kesultanan Mataram.

  • Hanyokrokusumo

    Gelar yang diberikan kepada Sultan Agung setelah ia berhasil menaklukkan Kerajaan Pajang. Gelar ini berasal dari kata “hanyokro” yang berarti “emas” dan “kusumo” yang berarti “bunga”. Gelar ini melambangkan kejayaan dan keagungan Sultan Agung.

  • Nama kecil: Raden Mas Rangsang

    Nama kecil Sultan Agung adalah Raden Mas Rangsang. Nama ini diberikan kepadanya karena ia lahir pada saat terjadi gempa bumi.

Nama lengkap Sultan Agung mencerminkan kebesaran dan kejayaan Kesultanan Mataram pada masa pemerintahannya.

Masa pemerintahan: 1613-1645

Sultan Agung memerintah Kesultanan Mataram selama 32 tahun, dari tahun 1613 hingga 1645. Masa pemerintahannya ditandai dengan berbagai pencapaian besar, baik di bidang militer, politik, maupun budaya.

Di bidang militer, Sultan Agung berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Pajang, Surabaya, dan Kediri. Ia juga melakukan ekspansi wilayah ke Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, ia juga berhasil mengusir penjajah Belanda dari Batavia.

Di bidang politik, Sultan Agung menjalankan pemerintahan yang kuat dan terpusat. Ia juga melakukan reformasi pemerintahan dengan membagi wilayah Kesultanan Mataram menjadi beberapa kadipaten dan kabupaten. Sultan Agung juga menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Di bidang budaya, Sultan Agung memberikan perhatian besar terhadap pengembangan budaya Jawa. Ia memerintahkan penyusunan berbagai karya sastra, seperti Serat Centhini dan Babad Tanah Jawi. Ia juga membangun keraton baru di Kerta, yang menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Kesultanan Mataram.

Masa pemerintahan Sultan Agung merupakan masa keemasan Kesultanan Mataram. Ia berhasil membawa Mataram menjadi kerajaan yang disegani di Nusantara. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan berjasa besar dalam pengembangan budaya Jawa.

Ibu kota: Kerta

Ibu kota Kesultanan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung adalah Kerta. Kerta terletak di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kota ini dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1625 sebagai pengganti ibu kota lama, Pajang.

Kerta merupakan kota yang besar dan megah. Kota ini dikelilingi oleh tembok tinggi dan memiliki beberapa pintu gerbang. Di dalam kota, terdapat keraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Keraton Kerta merupakan istana Sultan Agung dan keluarganya. Masjid Kerta merupakan masjid terbesar di Kesultanan Mataram. Alun-alun Kerta merupakan tempat upacara dan kegiatan publik. Pasar Kerta merupakan pusat perdagangan di Kesultanan Mataram.

Kerta menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Kesultanan Mataram. Kota ini juga menjadi pusat perdagangan dan ekonomi. Kerta merupakan kota yang ramai dan kosmopolitan. Di kota ini, berbagai suku bangsa dan agama hidup berdampingan secara damai.

Pada tahun 1645, Sultan Agung meninggal dunia. Setelah kematiannya, Kesultanan Mataram mengalami kemunduran. Kerta pun ditinggalkan dan ibu kota Kesultanan Mataram dipindahkan ke Plered.

Agama: Islam

Sultan Agung adalah seorang Muslim yang taat. Ia menjalankan syariat Islam dengan baik dan memerintahkan rakyatnya untuk melakukan hal yang sama. Sultan Agung juga membangun banyak masjid dan pesantren di seluruh wilayah Kesultanan Mataram.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kesultanan Mataram menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa. Banyak ulama dan kyai terkenal yang tinggal di Kesultanan Mataram, seperti Syeikh Siti Jenar, Syeikh Lemah Abang, dan Sunan Giri. Mereka mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Mataram dan sekitarnya.

Sultan Agung juga dikenal sebagai pelindung para ulama dan kyai. Ia memberikan mereka tanah dan uang untuk membangun masjid dan pesantren. Sultan Agung juga sering berdiskusi dengan para ulama dan kyai tentang masalah-masalah agama dan pemerintahan.

Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Setelah kematiannya, Kesultanan Mataram mengalami kemunduran. Namun, agama Islam tetap menjadi agama mayoritas di Kesultanan Mataram dan sekitarnya.

Istri: Ratu Wetan dan Ratu Kidul

Sultan Agung memiliki dua orang istri, yaitu Ratu Wetan dan Ratu Kidul.

Ratu Wetan

Ratu Wetan adalah istri pertama Sultan Agung. Ia merupakan putri dari Panembahan Rama, raja Pajang. Ratu Wetan menikah dengan Sultan Agung pada tahun 1613. Ia melahirkan seorang putra bernama Amangkurat I, yang kelak menjadi raja Kesultanan Mataram setelah Sultan Agung meninggal dunia.

Ratu Kidul

Ratu Kidul adalah istri kedua Sultan Agung. Ia merupakan seorang putri dari kerajaan jin yang berkuasa di Laut Selatan. Ratu Kidul menikah dengan Sultan Agung pada tahun 1625. Ia tidak memiliki anak dari pernikahannya dengan Sultan Agung.

Ratu Wetan dan Ratu Kidul hidup rukun dalam satu istana. Mereka saling menghormati dan mendukung Sultan Agung dalam menjalankan pemerintahan.

Anak: Amangkurat I

Sultan Agung memiliki seorang putra bernama Amangkurat I. Amangkurat I lahir pada tahun 1619 dari istri pertama Sultan Agung, Ratu Wetan. Amangkurat I diangkat menjadi raja Kesultanan Mataram setelah Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1645.

Amangkurat I memerintah Kesultanan Mataram selama 15 tahun, dari tahun 1645 hingga 1660. Pada masa pemerintahannya, Amangkurat I menghadapi berbagai pemberontakan dari para bupati dan bangsawan Mataram. Pemberontakan-pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Amangkurat I dengan bantuan para panglima perangnya.

Amangkurat I juga dikenal sebagai raja yang kejam dan bengis. Ia sering menghukum mati para pengkhianat dan pemberontak dengan cara yang sadis. Amangkurat I juga memindahkan ibu kota Kesultanan Mataram dari Kerta ke Plered.

Pada tahun 1660, Amangkurat I meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Amangkurat II.

Meninggal: 1645

Sultan Agung meninggal dunia pada tanggal 16 Februari 1645 di Kerta, ibu kota Kesultanan Mataram. Ia meninggal dunia pada usia 52 tahun.

  • Sakit

    Sultan Agung meninggal dunia karena sakit. Ia menderita sakit selama beberapa bulan sebelum meninggal dunia.

  • Di makamkan di Imogiri

    Sultan Agung dimakamkan di Imogiri, sebuah kompleks pemakaman raja-raja Mataram. Makam Sultan Agung terletak di puncak bukit, dengan pemandangan yang indah ke arah Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

  • Digantikan oleh Amangkurat I

    Setelah Sultan Agung meninggal dunia, ia digantikan oleh putranya, Amangkurat I.

  • Masa berkabung

    Setelah Sultan Agung meninggal dunia, seluruh Kesultanan Mataram berkabung. Rakyat Mataram sangat sedih atas meninggalnya raja mereka yang agung.

Sultan Agung adalah raja terbesar Kesultanan Mataram. Ia memerintah Mataram selama 32 tahun dan membawa Mataram menjadi kerajaan yang disegani di Nusantara. Sultan Agung juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan berjasa besar dalam pengembangan budaya Jawa.