Taman Siswa: Sekolah Perintis Berbasis Nasionalisme dan Humanisme

Taman Siswa merupakan salah satu sekolah perintis di Indonesia yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922. Sekolah ini didirikan dengan tujuan untuk memberikan pendidikan yang berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme. Taman Siswa menjadi salah satu sekolah yang berpengaruh besar dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara memiliki pandangan bahwa pendidikan haruslah berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme. Ia percaya bahwa anak-anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan perkembangan mereka. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter dan pembentukan pribadi yang kuat pada anak-anak.

Taman Siswa menjadi salah satu sekolah perintis yang menerapkan metode pendidikan yang berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme. Sekolah ini juga menjadi salah satu sekolah yang pertama kali menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran.

Taman Siswa

Sekolah perintis nasionalisme humanisme.

  • Didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara.
  • Tanggal 3 Juli 1922.
  • Pusat pendidikan anak.
  • Berbasis nilai nasionalisme dan humanisme.
  • Menerapkan metode among.
  • Menggunakan bahasa Indonesia.
  • Mementingkan pendidikan karakter.
  • Berpengaruh besar terhadap pendidikan Indonesia.
  • Menjadi sekolah percontohan.
  • Melahirkan banyak tokoh penting.

Taman Siswa merupakan sekolah perintis yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.

Didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Taman Siswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922. Ki Hadjar Dewantara merupakan seorang tokoh pendidikan dan kebangsaan Indonesia yang sangat berpengaruh. Ia memiliki pandangan bahwa pendidikan haruslah berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme.

  • Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

    Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ia memiliki jasa yang besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan masih relevan hingga saat ini.

  • Taman Siswa sebagai Sekolah Perintis.

    Taman Siswa merupakan salah satu sekolah perintis di Indonesia. Sekolah ini didirikan dengan tujuan untuk memberikan pendidikan yang berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme. Taman Siswa menjadi salah satu sekolah yang berpengaruh besar dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

  • Metode Pendidikan Among.

    Ki Hadjar Dewantara mengembangkan metode pendidikan yang disebut dengan metode among. Metode ini menekankan pada pentingnya peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing. Guru harus mampu memahami kebutuhan dan perkembangan anak didiknya. Selain itu, guru juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan.

  • Pendidikan Karakter dan Pembentukan Pribadi.

    Ki Hadjar Dewantara sangat menekankan pentingnya pendidikan karakter dan pembentukan pribadi pada anak didik. Ia percaya bahwa pendidikan harus mampu membentuk anak didik menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan terampil.

Pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan masih sangat relevan hingga saat ini. Taman Siswa sebagai sekolah perintis yang didirikannya telah menjadi inspirasi bagi banyak sekolah di Indonesia. Metode pendidikan among yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara juga masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Tanggal 3 Juli 1922.

Taman Siswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922. Tanggal tersebut dipilih oleh Ki Hadjar Dewantara karena memiliki makna historis yang penting. Pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantara bersama dengan para pemuda lainnya mendirikan organisasi kepemudaan Jong Java. Organisasi ini bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak dan kepentingan pemuda Indonesia.

Pemilihan tanggal 3 Juli 1922 sebagai hari kelahiran Taman Siswa juga memiliki makna simbolis. Ki Hadjar Dewantara ingin agar Taman Siswa menjadi sekolah yang dapat memperjuangkan hak-hak dan kepentingan anak-anak Indonesia. Ia ingin agar anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan perkembangan mereka.

Pada awalnya, Taman Siswa hanya memiliki beberapa orang siswa saja. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah siswa Taman Siswa semakin bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat antusias dengan konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Taman Siswa. Taman Siswa kemudian berkembang menjadi salah satu sekolah perintis yang berpengaruh besar dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Pada tahun 1957, Taman Siswa ditetapkan sebagai sekolah swasta nasional yang berkedudukan di Yogyakarta. Hingga saat ini, Taman Siswa masih tetap eksis dan terus menjalankan misinya untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dan berpusat pada anak.

Tanggal 3 Juli 1922 merupakan tanggal yang sangat penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Pada tanggal tersebut, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa, sekolah perintis yang menjadi inspirasi bagi banyak sekolah lainnya di Indonesia. Taman Siswa telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.

Pusat pendidikan anak.

Taman Siswa merupakan sekolah yang berpusat pada anak. Artinya, seluruh kegiatan pembelajaran di Taman Siswa dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan anak didik. Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa anak didik merupakan pusat dari proses pembelajaran. Guru harus mampu memahami kebutuhan dan perkembangan anak didiknya. Selain itu, guru juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan.

Kurikulum Taman Siswa dirancang dengan memperhatikan perkembangan anak didik. Kurikulum ini menekankan pada pengembangan aspek intelektual, emosional, dan spiritual anak didik. Selain itu, kurikulum Taman Siswa juga menekankan pada pentingnya pendidikan karakter dan pembentukan pribadi anak didik.

Metode pembelajaran di Taman Siswa juga dirancang dengan memperhatikan perkembangan anak didik. Metode pembelajaran yang digunakan di Taman Siswa menekankan pada pentingnya keterlibatan aktif anak didik dalam proses pembelajaran. Anak didik diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan melakukan eksperimen. Selain itu, metode pembelajaran di Taman Siswa juga menekankan pada pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman.

Taman Siswa juga sangat memperhatikan kesejahteraan anak didiknya. Sekolah ini menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Selain itu, Taman Siswa juga memiliki program khusus untuk membantu anak didik yang mengalami kesulitan belajar.

Taman Siswa telah terbukti mampu menjadi pusat pendidikan anak yang efektif. Banyak lulusan Taman Siswa yang berhasil meraih prestasi gemilang di berbagai bidang. Hal ini menunjukkan bahwa Taman Siswa telah berhasil menjalankan misinya untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dan berpusat pada anak.

Berbasis nilai nasionalisme dan humanisme.

Taman Siswa merupakan sekolah yang berbasis pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme. Artinya, seluruh kegiatan pembelajaran di Taman Siswa dirancang untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan humanisme pada anak didik. Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa nilai-nilai nasionalisme dan humanisme sangat penting untuk membentuk karakter anak didik.

  • Nilai-nilai nasionalisme.

    Nilai-nilai nasionalisme yang ditanamkan di Taman Siswa meliputi cinta tanah air, rela berkorban, dan pantang menyerah. Anak didik diajarkan untuk mencintai tanah airnya dan bersedia berkorban untuk membelanya. Selain itu, anak didik juga diajarkan untuk pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.

  • Nilai-nilai humanisme.

    Nilai-nilai humanisme yang ditanamkan di Taman Siswa meliputi kasih sayang, toleransi, dan persatuan. Anak didik diajarkan untuk saling menyayangi dan menghargai sesama manusia. Selain itu, anak didik juga diajarkan untuk bersikap toleran terhadap perbedaan dan hidup rukun dalam keberagaman.

  • Metode pembelajaran yang berpusat pada anak.

    Metode pembelajaran yang digunakan di Taman Siswa dirancang untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan humanisme pada anak didik. Anak didik diberi kesempatan untuk belajar tentang sejarah dan budaya Indonesia. Selain itu, anak didik juga diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan belajar tentang keberagaman.

  • Kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung penanaman nilai-nilai nasionalisme dan humanisme.

    Taman Siswa memiliki berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung penanaman nilai-nilai nasionalisme dan humanisme pada anak didik. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut meliputi pramuka, kesenian tradisional, dan olahraga.

Taman Siswa telah terbukti mampu menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan humanisme pada anak didiknya. Banyak lulusan Taman Siswa yang tumbuh menjadi pribadi yang nasionalis dan humanis. Hal ini menunjukkan bahwa Taman Siswa telah berhasil menjalankan misinya untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme.

Menerapkan metode among.

Metode among merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Metode ini menekankan pada pentingnya peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing. Guru harus mampu memahami kebutuhan dan perkembangan anak didiknya. Selain itu, guru juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan.

Dalam metode among, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari anak didiknya. Guru harus mampu mendengarkan pendapat dan pertanyaan anak didiknya. Selain itu, guru juga harus mampu memberikan respons yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya.

Metode among juga menekankan pada pentingnya kerja sama antara guru dan orang tua. Orang tua harus berperan aktif dalam mendukung pendidikan anak didiknya. Orang tua harus bekerja sama dengan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi anak didik.

Metode among telah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran anak didik. Anak didik yang belajar dengan menggunakan metode among cenderung lebih aktif dan kreatif. Selain itu, anak didik yang belajar dengan menggunakan metode among juga cenderung lebih mudah memahami materi pelajaran.

Taman Siswa merupakan salah satu sekolah yang menerapkan metode among dalam proses pembelajaran. Metode among telah diterapkan di Taman Siswa sejak sekolah ini didirikan pada tahun 1922. Hingga saat ini, metode among masih tetap diterapkan di Taman Siswa. Hal ini menunjukkan bahwa metode among merupakan metode pembelajaran yang efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan metode among di Taman Siswa:
* Guru memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bertanya dan berdiskusi.
* Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari anak didiknya.
* Guru bekerja sama dengan orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi anak didik.
* Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk menyampaikan materi pelajaran.
Metode among telah terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran anak didik di Taman Siswa. Banyak lulusan Taman Siswa yang berhasil meraih prestasi gemilang di berbagai bidang. Hal ini menunjukkan bahwa metode among merupakan metode pembelajaran yang efektif dan dapat diterapkan di sekolah-sekolah lainnya.

Menggunakan bahasa Indonesia.

Taman Siswa merupakan salah satu sekolah yang pertama kali menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tepat untuk digunakan dalam pendidikan di Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional Indonesia yang dapat dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia.

  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

    Taman Siswa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran sejak sekolah ini didirikan pada tahun 1922. Hingga saat ini, Taman Siswa masih tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran.

  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar mendorong persatuan dan kesatuan bangsa.

    Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Taman Siswa mendorong persatuan dan kesatuan bangsa. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional Indonesia yang dapat dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, Taman Siswa dapat menjangkau seluruh anak didik di Indonesia.

  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar mempermudah anak didik dalam belajar.

    Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Taman Siswa mempermudah anak didik dalam belajar. Anak didik yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu akan lebih mudah memahami materi pelajaran. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar juga dapat membantu anak didik yang berasal dari daerah yang berbeda untuk berkomunikasi dengan lancar.

  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar memperkuat identitas nasional.

    Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Taman Siswa memperkuat identitas nasional anak didik. Anak didik yang belajar dengan menggunakan bahasa Indonesia akan lebih memahami dan mencintai bahasanya sendiri. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar juga dapat membantu anak didik untuk lebih memahami sejarah dan budaya Indonesia.

Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Taman Siswa telah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran anak didik. Banyak lulusan Taman Siswa yang berhasil meraih prestasi gemilang di berbagai bidang. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Taman Siswa merupakan langkah yang tepat.

Mementingkan pendidikan karakter.

Taman Siswa sangat mementingkan pendidikan karakter pada anak didiknya. Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa pendidikan karakter merupakan bagian penting dari pendidikan. Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk anak didik menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan terampil.

  • Pendidikan karakter dimulai dari keluarga.

    Pendidikan karakter di Taman Siswa dimulai dari keluarga. Orang tua berperan penting dalam membentuk karakter anak didik. Orang tua harus memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya. Selain itu, orang tua juga harus mengajarkan nilai-nilai moral dan agama kepada anak didiknya.

  • Pendidikan karakter dilanjutkan di sekolah.

    Pendidikan karakter di Taman Siswa dilanjutkan di sekolah. Guru berperan penting dalam membentuk karakter anak didik. Guru harus memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya. Selain itu, guru juga harus mengajarkan nilai-nilai moral dan agama kepada anak didiknya. Guru juga harus memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mempraktikkan nilai-nilai moral dan agama dalam kehidupan sehari-hari.

  • Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai kegiatan.

    Pendidikan karakter di Taman Siswa dilakukan melalui berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi upacara bendera, kegiatan keagamaan, kegiatan pramuka, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut dirancang untuk menanamkan nilai-nilai moral dan agama pada anak didik. Selain itu, kegiatan-kegiatan tersebut juga dirancang untuk memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mempraktikkan nilai-nilai moral dan agama dalam kehidupan sehari-hari.

  • Pendidikan karakter dievaluasi secara berkala.

    Pendidikan karakter di Taman Siswa dievaluasi secara berkala. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pendidikan karakter telah berhasil diterapkan pada anak didik. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki program pendidikan karakter di Taman Siswa.

Pendidikan karakter di Taman Siswa telah terbukti efektif dalam membentuk karakter anak didik. Banyak lulusan Taman Siswa yang tumbuh menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan terampil. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter di Taman Siswa merupakan langkah yang tepat.

Berpengaruh besar terhadap pendidikan Indonesia.

Taman Siswa merupakan salah satu sekolah yang berpengaruh besar terhadap pendidikan di Indonesia. Taman Siswa menjadi salah satu sekolah perintis yang memperkenalkan metode pendidikan yang berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme. Taman Siswa juga menjadi salah satu sekolah yang pertama kali menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran.

Metode pendidikan yang diterapkan di Taman Siswa telah menginspirasi banyak sekolah di Indonesia. Metode pendidikan yang berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme telah menjadi salah satu prinsip dasar pendidikan di Indonesia. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran di Taman Siswa juga telah menjadi contoh bagi banyak sekolah di Indonesia.

Taman Siswa juga telah melahirkan banyak tokoh penting yang berkontribusi besar terhadap pendidikan di Indonesia. Beberapa tokoh penting tersebut antara lain:
* Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
* Nyi Hajar Dewantara: Pendiri Taman Siswa Wanita.
* Soewardi Soerjaningrat: Tokoh pendidikan dan kebangsaan Indonesia.
* Ki Mangunsarkoro: Tokoh pendidikan dan kebudayaan Indonesia.
* Ki Sarmidi Mangunsarkoro: Tokoh pendidikan dan politik Indonesia.

Tokoh-tokoh penting tersebut telah berkontribusi besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Mereka telah memperjuangkan hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Selain itu, mereka juga telah mengembangkan metode pendidikan yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Taman Siswa merupakan sekolah yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan di Indonesia. Metode pendidikan yang diterapkan di Taman Siswa telah menginspirasi banyak sekolah di Indonesia. Selain itu, Taman Siswa juga telah melahirkan banyak tokoh penting yang berkontribusi besar terhadap pendidikan di Indonesia.

Menjadi sekolah percontohan.

Taman Siswa merupakan sekolah percontohan bagi banyak sekolah di Indonesia. Metode pendidikan yang diterapkan di Taman Siswa telah menginspirasi banyak sekolah di Indonesia. Selain itu, Taman Siswa juga telah menjadi contoh bagi banyak sekolah di Indonesia dalam hal penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran.

Taman Siswa menjadi sekolah percontohan karena beberapa alasan berikut:
* Metode pendidikan yang diterapkan di Taman Siswa inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. Metode pendidikan yang berpusat pada anak dan berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme dan humanisme telah menjadi salah satu prinsip dasar pendidikan di Indonesia.
* Taman Siswa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran. Hal ini merupakan contoh yang baik bagi banyak sekolah di Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran dapat membantu anak didik untuk lebih memahami materi pelajaran. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran juga dapat membantu anak didik untuk lebih memahami sejarah dan budaya Indonesia.
* Taman Siswa memiliki tenaga pendidik yang berkualitas. Guru-guru di Taman Siswa memiliki kompetensi yang tinggi dan berpengalaman dalam mengajar. Guru-guru di Taman Siswa juga sangat peduli terhadap perkembangan anak didiknya.
* Taman Siswa memiliki fasilitas yang lengkap. Taman Siswa memiliki gedung sekolah yang representatif, laboratorium, perpustakaan, dan fasilitas olahraga yang lengkap. Fasilitas yang lengkap tersebut dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di Taman Siswa.
* Taman Siswa memiliki prestasi yang baik. Lulusan Taman Siswa banyak yang berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, lulusan Taman Siswa juga banyak yang berhasil berkarier di berbagai bidang.

Taman Siswa merupakan sekolah percontohan yang baik bagi banyak sekolah di Indonesia. Metode pendidikan yang diterapkan di Taman Siswa, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran, tenaga pendidik yang berkualitas, fasilitas yang lengkap, dan prestasi yang baik menjadikan Taman Siswa sebagai sekolah yang patut dicontoh oleh banyak sekolah di Indonesia.

Melahirkan banyak tokoh penting.

Taman Siswa telah banyak berkontribusi terhadap lahirnya tokoh-tokoh penting di Indonesia. Banyak lulusan Taman Siswa yang telah berkiprah di berbagai bidang dan memberikan sumbangsih yang besar bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Beberapa tokoh penting yang lahir dari Taman Siswa antara lain:
* Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
* Nyi Hajar Dewantara: Pendiri Taman Siswa Wanita.
* Soewardi Soerjaningrat: Tokoh pendidikan dan kebangsaan Indonesia.
* Ki Mangunsarkoro: Tokoh pendidikan dan kebudayaan Indonesia.
* Ki Sarmidi Mangunsarkoro: Tokoh pendidikan dan politik Indonesia.
* Ki Sutan Syahrir: Perdana Menteri pertama Indonesia.
* Mohammad Hatta: Wakil Presiden pertama Indonesia.
* Sjahrir: Perdana Menteri kedua Indonesia.
* Wikana: Menteri Pertahanan pertama Indonesia.
* Sumitro Djojohadikusumo: Menteri Perdagangan dan Perindustrian pertama Indonesia.

Tokoh-tokoh tersebut hanya sebagian kecil dari banyak lulusan Taman Siswa yang telah berkontribusi besar terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Lulusan Taman Siswa telah berkiprah di berbagai bidang, seperti pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Taman Siswa telah berhasil mendidik anak-anak Indonesia menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, dan beramal saleh. Lulusan Taman Siswa telah menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang bijaksana dan adil. Lulusan Taman Siswa juga telah menjadi ilmuwan, seniman, dan budayawan yang berprestasi. Taman Siswa telah berkontribusi besar terhadap kemajuan bangsa Indonesia dengan lahirnya banyak tokoh penting.