Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mendorong sektor pariwisata Garut bebas dari praktik pungutan liar atau pungli. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga rasa aman, kenyamanan, dan kepercayaan wisatawan yang datang ke berbagai destinasi unggulan di daerah tersebut.
Dorongan tersebut sejalan dengan kebutuhan Garut sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Barat. Di tengah persaingan antarwilayah, pengalaman pengunjung tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga oleh tata kelola, keamanan, dan kepastian biaya selama berada di lokasi wisata.
Sejumlah anggota dewan menilai pungli, sekecil apa pun nominalnya, bisa merusak citra daerah. Bagi wisatawan, pungutan di luar ketentuan resmi kerap menimbulkan kesan tidak profesional dan membuat mereka ragu untuk kembali berkunjung.
Pungli Dinilai Merusak Citra Destinasi
Garut memiliki beragam daya tarik wisata, mulai dari pegunungan, pemandian air panas, pantai selatan, hingga wisata kuliner dan budaya. Potensi besar itu membutuhkan dukungan tata kelola yang bersih agar mampu memberi pengalaman positif bagi pengunjung.
Pungli menjadi persoalan serius karena dampaknya tidak berhenti pada transaksi sesaat. Keluhan wisatawan dapat menyebar cepat melalui media sosial, ulasan digital, hingga percakapan dari mulut ke mulut yang memengaruhi keputusan calon pengunjung lainnya.
DPRD memandang pencegahan pungli harus dilakukan sejak pintu masuk kawasan wisata, area parkir, hingga layanan pendukung lain. Kejelasan tarif dan petugas resmi menjadi kunci agar pengunjung tidak merasa dirugikan.
Keamanan dan Kenyamanan Jadi Faktor Penentu
Dalam industri pariwisata modern, keamanan dan kenyamanan merupakan faktor utama yang menentukan lama tinggal dan kemungkinan wisatawan untuk datang kembali. Destinasi yang tertib umumnya lebih mudah membangun reputasi baik dan mendorong belanja wisata yang lebih tinggi.
Karena itu, perhatian DPRD tidak hanya tertuju pada penindakan, tetapi juga pembenahan sistem layanan. Pengelola wisata, aparat, dan pemerintah daerah perlu memastikan bahwa pengunjung memperoleh informasi yang jelas mengenai harga tiket, parkir, serta fasilitas yang tersedia.
Prinsip ini penting terutama saat musim liburan, ketika lonjakan wisatawan sering memunculkan celah penyalahgunaan di lapangan. Situasi ramai kerap dimanfaatkan oleh oknum untuk menarik biaya tambahan di luar aturan resmi.
Butuh Pengawasan dan Standar Tarif yang Jelas
Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah pemasangan papan informasi tarif resmi di lokasi-lokasi strategis. Cara ini sederhana, tetapi efektif untuk mencegah kebingungan wisatawan serta memudahkan pengawasan oleh petugas.
DPRD juga mendorong adanya koordinasi lintas sektor, termasuk dinas terkait, pengelola objek wisata, aparat keamanan, dan pemerintah desa di kawasan destinasi. Pengawasan bersama dinilai lebih efektif dibanding mengandalkan satu institusi saja.
Selain itu, kanal pengaduan publik perlu dibuat lebih mudah diakses. Wisatawan harus tahu ke mana mereka bisa melapor apabila menemukan pungutan tidak resmi, layanan yang tidak wajar, atau tindakan yang mengganggu kenyamanan selama berwisata.
Dampak Ekonomi dari Wisata yang Tertib
Pariwisata yang bersih dari pungli bukan hanya soal citra, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi lokal. Ketika pengunjung merasa aman, mereka cenderung bertahan lebih lama, berbelanja lebih banyak, dan merekomendasikan destinasi tersebut kepada orang lain.
Menurut data Kementerian Pariwisata, kualitas layanan, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan merupakan komponen penting dalam membangun daya saing destinasi. Daerah yang mampu menjaga standar layanan umumnya lebih kuat dalam menarik kunjungan berulang.
Bagi Garut, efek berantai ini sangat penting karena sektor wisata berkaitan langsung dengan pelaku usaha kecil, penginapan, rumah makan, pedagang cendera mata, hingga transportasi lokal. Jika keluhan pungli terus muncul, yang terkena dampaknya bukan hanya pengelola wisata, tetapi juga ekonomi warga sekitar.
Edukasi Petugas dan Pelaku Usaha Perlu Diperkuat
Pencegahan pungli tidak cukup hanya mengandalkan penindakan. Edukasi kepada petugas lapangan, juru parkir resmi, pengelola, dan pelaku usaha di kawasan wisata juga harus diperkuat agar semua pihak memahami standar pelayanan yang benar.
Pelayanan yang ramah, tarif terbuka, dan sikap profesional dapat menjadi pembeda penting bagi destinasi Garut. Wisatawan saat ini semakin kritis dan mudah membandingkan pengalaman mereka dengan daerah lain yang lebih tertib.
Dalam konteks itu, upaya DPRD mendorong wisata Garut bebas pungli dapat dibaca sebagai langkah menjaga keberlanjutan industri pariwisata. Kepercayaan publik merupakan modal utama yang harus dirawat secara konsisten.
Komitmen Bersama Menjaga Reputasi Garut
Penguatan pengawasan, penertiban pungutan tidak resmi, dan perbaikan layanan di objek wisata diharapkan menjadi agenda bersama seluruh pemangku kepentingan. Dengan begitu, Garut tidak hanya dikenal karena pesona alamnya, tetapi juga karena tata kelola wisatanya yang tertib dan ramah pengunjung.
Bagi masyarakat yang mengikuti perkembangan daerah, laporan dan informasi lokal yang terverifikasi menjadi bagian penting untuk mengawal isu ini. Pembaca dapat mengikuti pembaruan seputar Garut melalui Picgarut, termasuk dinamika pariwisata, pelayanan publik, dan kebijakan daerah yang berdampak langsung pada warga maupun wisatawan.
Pada akhirnya, wisata bebas pungli merupakan fondasi dasar bagi kemajuan destinasi. Jika keamanan dan kenyamanan benar-benar dijadikan prioritas, Garut berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di Jawa Barat.
PIC GARUT Public Information Center Garut
