Sabtu , April 20 2024

Kehidupan Masyarakat Pada Masa Demokrasi Parlementer

Kehidupan Masyarakat Pada Masa Demokrasi Parlementer

Masa Demokrasi Parlementer di Indonesia berlangsung dari tahun 1950 hingga 1959. Pada masa ini, Indonesia menganut sistem pemerintahan parlementer yang menempatkan parlemen sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Hal ini menyebabkan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa tersebut banyak dipengaruhi oleh gejolak politik dan permasalahan ekonomi.

Kehidupan Politik

Pada masa Demokrasi Parlementer, Indonesia mengalami banyak perubahan politik. Hal ini disebabkan oleh banyaknya partai politik yang bersaing untuk meraih kekuasaan. Akibatnya, kabinet-kabinet yang dibentuk tidak berumur panjang karena sering dijatuhkan oleh mosi tidak percaya dari parlemen.

Selama masa Demokrasi Parlementer, terdapat 13 kabinet yang dibentuk, yaitu:

  • Kabinet Amir Sjarifuddin I (17 Agustus 1950 – 29 Maret 1951)
  • Kabinet Amir Sjarifuddin II (29 Maret 1951 – 24 Juni 1951)
  • Kabinet Sukiman-Sartono (27 Juni 1951 – 17 Agustus 1952)
  • Kabinet Wilopo (17 Agustus 1952 – 24 Juli 1953)
  • Kabinet Ali Sastroamidjojo I (24 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
  • Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 20 Maret 1956)
  • Kabinet Ali Sastroamidjojo II (20 Maret 1956 – 16 Oktober 1956)
  • Kabinet Djuanda (16 Oktober 1956 – 10 Juli 1959)
  • Kabinet Karya (10 Juli 1959 – 5 Juli 1962)

Perubahan politik yang terjadi pada masa Demokrasi Parlementer juga berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya peran politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, masyarakat juga semakin kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Kehidupan Ekonomi

Pada masa Demokrasi Parlementer, Indonesia mengalami berbagai permasalahan ekonomi, antara lain:

  • Inflasi yang tinggi
  • Krisis ekonomi akibat Perang Korea
  • Devaluasi rupiah

Permasalahan ekonomi tersebut menyebabkan kehidupan masyarakat Indonesia menjadi sulit. Harga-harga barang dan jasa meningkat tajam, sehingga daya beli masyarakat menurun. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

Selain itu, permasalahan ekonomi juga menyebabkan terjadinya gejolak sosial di beberapa daerah. Hal ini disebabkan oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak mampu mengatasi permasalahan ekonomi.

Kehidupan Sosial

Pada masa Demokrasi Parlementer, kehidupan sosial masyarakat Indonesia mengalami beberapa perkembangan, antara lain:

  • Pendidikan

Pemerintah pada masa Demokrasi Parlementer berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan mendirikan berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Selain itu, pemerintah juga memberikan beasiswa kepada siswa-siswa berprestasi.

  • Kesehatan

Pemerintah juga berupaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini dilakukan dengan mendirikan berbagai rumah sakit dan puskesmas. Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu.

  • Kesenian dan budaya

Pada masa Demokrasi Parlementer, perkembangan kesenian dan budaya Indonesia semakin pesat. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.

Kesimpulan

Kehidupan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer mengalami berbagai perubahan, baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Perubahan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Perubahan sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer
  • Banyaknya partai politik yang bersaing untuk meraih kekuasaan
  • Permasalahan ekonomi yang dialami Indonesia

Perubahan-perubahan tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya peran politik, ekonomi, dan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.